قضيت الترتيب في الجملت الاسميت العسبيت

  • تلقيس نوردينتو جامعة محمدية جوكجاكرتا
Keywords: jumlah ismiyyah, mubtada, khabar, tartib

Abstract

Abstrak

Penelitian ini termasuk penelitian di bidang sintaksis arab (ilmu nachwu). Metode penelitian pendekatan yang dipakai adalah pendekatan analisis struktur gramatika bahasa Arab membahas urutan struktur jumlah ismiyyah yang memiliki fungsi subjek (mubtada`) dan predikat (khabar). Mubtada` dan khabar merupakan dua unsur penting yang harus ada pada struktur jumlah ismiyah bahasa Arab. Khabar sesuai dengan mubtada` dari jenisnya; maskulin (mudzakar) dan feminin (muannats), jumlah; tunggal (mufrad), dua (mutsanna), dan banyak (jama’), tankir dan ta’rifnya; definitif (ma’rifah) dan tidak definitif (nakirah), dan urutannya (tartib) bahwa mubtada` berada diawal kalimat.

Dalam beberapa kasus, bahwa khabar berada di depan mubtada` bisa menjadi sebuah keharusan (wajib) untuk memberikan kesesuaian makna yang diinginkan oleh penuturnya (mutakallim). Sedangkan memaksakan posisi mubtada` berada diawal kalimat mengakibatkan kerancuan makna.

Hasil dari penelitian ini, bahwa khabar wajib mendahului mubtada`; 1) apabila pada mubtada` terdapat kata ganti (dlamir) yang kembali kepada khabar atau bagian dari pada khabar, 2) struktur jumlah ismiyyah tidak bisa dipahami maknanya dengan benar kecuali dengan mendahulukan khabar dari mubtada`, 3) apabila mubtada` bersambung partikel fa` jaza` setelah kata immâ, 4) apabila khabar termasuk kata yang wajib berada diawal kalimat.

Kata kunci: jumlah ismiyyah, mubtada, khabar, tartib.

Published
2015-04-30