ANOMALI SINYAL SEBELUM GEMPABUMI YANG TERDETEKSI OLEH REKAMAN SUPERCONDUCTING GRAVIMETER DAN SEISMOMETER (LHZ) (STUDI KASUS: GEMPABUMI DI INDONESIA MW > 6)

  • Mariska Natalia Rande Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jakarta
  • Mahmud Yusuf Kedeputian InsKal dan Rekayasa Jaringan, BMKG Pusat
  • Fajar Rachmadi Priyambada Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III – Denpasar

Abstract

Abstrak

Selain menimbulkan radiasi gelombang seismik, gempabumi juga menimbulkan perubahan distribusi massa bumi, yang menyebabkan perubahan nilai gayaberat yang kecil. Sebelum terjadi gempabumi signifikan, terkadang perubahan nilai gayaberat dapat terlihat. Kami menggunakan 1 Superconducting Gravimeter (SG) dan 2 Seismometer (LHZ) untuk meneliti gempabumi yang terjadi di Indonesia dengan Mw ≥ 6. Dilakukan reduksi nilai pasang surut pada rekaman SG untuk mendapatkan nilai gayaberat sebenarnya. Rekaman sinyal Seismometer (LHZ) masih berupa satuan kecepatan, yang selanjutnya diturunkan terhadap waktu untuk mendapatkan satuan percepatan yang sama dengan SG. Kemudian dengan menggunakan fungsi spektogram, kita dapat melihat distribusi frekuensi pada rekaman SG dan Seismometer (LHZ). Dari analisa spektogram pada rekaman SG didapatkan anomali < 24 jam sebelum terjadi gempabumi utama. Anomali tersebut memiliki frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi gempa utama yaitu ≤ 0.2 Hz dan pada rekaman Seismometer (LHZ) tidak menunjukkan dengan jelas anomali sebelum terjadi gempabumi. Frekuensi ini berasosiasi dengan peningkatan gaya-gaya stres dari gempabumi utama sampai akhirnya pecah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa SG dapat merekam anomali sebelum terjadi gempabumi utama yang signifikan.

Kata-kata kunci: Superconducting Gravimeter, Gempabumi, Prekursor.

Abstract

In addition to causing seismic wave radiation, earthquakes also cause changes in the distribution of the earth's mass, causing changes in small gravity values. Before a significant earthquake occurs, sometimes gravity changes can be seen. We used 1 Superconducting Gravimeter (SG) and 2 Seismometers (LHZ) to study earthquakes occurring in Indonesia with Mw ≥ 6. Tidal reduction values ​​were made on SG recordings to obtain actual gravity values. The signal recording Seismometer (LHZ) is still a unit of speed, which is then downgraded to the time to get the same unit of acceleration as SG. Then by using the spectrograph function, we can see the frequency distribution on the SG and Seismometer (LHZ) recordings. From the spectrograph analysis on the SG recording, there was anomaly <24 hours before the major earthquake occurred. The anomaly has a frequency lower than the main quake frequency of ≤ 0.2 Hz and on the recording Seismometer (LHZ) does not show clearly the anomaly before the earthquake occurred. This frequency is associated with an increase in stress forces from the main earthquake until it finally breaks out. So it can be concluded that SG can record anomalies before major major earthquakes occur.

Keywords: Superconducting Gravimeter, Earthquake, Precursor.

Published
2017-10-30