Quo Vadis Lokalitas Bahasa-Sastra Indonesia dalam Globalitas Dunia?
DOI:
https://doi.org/10.21009/Arif.052.02Keywords:
bahasa Indonesia, globalisasi, identitas budaya, lokalitas, sastra IndonesiaAbstract
Artikel ini membahas arah dan masa depan lokalitas bahasa-sastra Indonesia di tengah arus globalisasi yang kian meluas. Pertanyaan kunci yang diajukan adalah quo vadis atau ke mana arah lokalitas bahasa-sastra Indonesia dalam menghadapi globalitas dunia. Globalisasi, dengan segala dampak positif dan negatifnya, membawa perubahan signifikan dalam penggunaan serta apresiasi bahasa dan sastra Indonesia. Artikel ini menyoroti bagaimana globalisasi mengancam keberadaan nilai-nilai lokal yang terkandung dalam bahasa-sastra, sekaligus membuka peluang baru untuk memperkenalkan kekayaan budaya bangsa Indonesia ke panggung internasional. Melalui pendekatan kritis, tulisan ini mengkaji tantangan yang dihadapi serta peluang yang dimiliki bahasa-sastra Indonesia dalam menjaga identitas lokal sambil beradaptasi dengan dinamika global. Kesimpulan yang diperoleh adalah keberlanjutan lokalitas bahasa-sastra Indonesia sangat bergantung pada kemampuannya untuk berinovasi dan beradaptasi. Selain itu, bangsa Indonesia perlu menyiapkan strategi kebudayaan yang mampu mengintegrasikan lokalitas dengan globalitas secara seimbang.
References
Appadurai, A. (1996). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Bhabha, H. K. (1994). The location of culture. London: Routledge.
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241–258). New York: Greenwood.
Damono, S. D. (2015). Hujan bulan Juni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Damrosch, D. (2003). What is world literature? Princeton: Princeton University Press.
Genette, G. (1997). Palimpsests: Literature in the second degree. Lincoln: University of Nebraska Press.
Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. London: Sage.
Hirata, A. (2005). Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Kayam, U. (1992). Para Priyayi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Kristeva, J. (1980). Desire in language: A semiotic approach to literature and art. New York: Columbia University Press.
Mishra, V., & Hodge, B. (1994). The postcolonial imaginary: A study of literature and society. Sydney: University of Western Sydney.
Pamuntjak, L. (2012). Amba. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rampan, K. L. (1978). Upacara. Jakarta: Balai Pustaka.
Robertson, R. (1995). Glocalization: Time-space and homogeneity-heterogeneity. In M. Featherstone, S. Lash, & R. Robertson (Eds.), Global modernities (pp. 25–44). London: Sage.
Spivak, G. C. (1988). Can the subaltern speak? In C. Nelson & L. Grossberg (Eds.), Marxism and the interpretation of culture (pp. 271–313). Urbana: University of Illinois Press.
Toer, P. A. (1980). Bumi manusia. Jakarta: Hasta Mitra.
Toer, P. A. (1980–1988). Tetralogi Buru: Bumi manusia, Anak semua bangsa, Jejak langkah, Rumah kaca. Jakarta: Hasta Mitra.
Toer, P. A. (1995). Arus balik. Jakarta: Lentera Dipantara.
Tohari, A. (1980). Kubah. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tohari, A. (2003). Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Utami, A. (1998). Saman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.





