Transformasi Estetika dalam Festival Reyog Ponorogo: Negosiasi Tradisi dan Modernitas
DOI:
https://doi.org/10.21009/Arif.052.01Keywords:
festival, inoasi estetika, pelestarian budaya, Reyog Ponorogo, transformasi seniAbstract
Artikel ini membahas permasalahan yang muncul akibat transformasi seni pertunjukan Reyog Ponorogo dalam Festival Nasional yang menggeser orientasi tradisional ke arah profesionalisme dan estetika modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami perubahan format dan elemen artistik dalam pertunjukan Reyog antara format Reyog Festival dan Reyog Obyog mempengaruhi kelangsungan nilai budaya tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan analisis teks. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan seniman dan pengelola festival, serta studi dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Reyog Festival cenderung menekankan inovasi visual, perubahan koreografi dan kostum, serta komersialisasi seni pertunjukan. Sebaliknya, Reyog Obyog mempertahankan interaksi langsung dengan penonton serta unsur ritual dan adat yang kuat. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa meskipun modernisasi menghadirkan tantangan terhadap nilai-nilai budaya tradisional, ia juga membuka ruang negosiasi antara pelestarian adat dan inovasi kontemporer. Oleh karena itu, strategi pelestarian yang adaptif dan kontekstual sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya Reyog Ponorogo.
References
Bauman, R. (1992). Folklore, cultural performance, and popular culture. University of Texas Press.
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. G. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241-258). Greenwood Press.
Bourdieu, P. (1993). The field of cultural production: Essays on art and literature. Columbia University Press.
Denzin, N.K. & Lincoln, Y.S. (2005). The Sage Handbook of Qualitative Research.
Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Fallacy, A. (1987). Festival and the dynamics of social and cultural identity. Sage Publications.
Fischer-Lichte, E. (2008). The Transformative Power of Performance: A New Aesthetics.
Routledge.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. Basic Books.
Harsono, S., & Santoso, B. (2022). Transformasi estetika dan budaya dalam proses kreatif Reyog Ponorogo. Jurnal Seni.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook. Sage Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi Revisi). Remaja Rosdakarya.
Murchison, J. M. (2010). Ethnography essentials: Designing, conducting, and presenting your research. Jossey-Bass.
Nugroho, O. C. (2013). Reyog Ponorogo dalam perspektif high/low context culture: Studi kasus Reyog Obyogan dan Reyog Festival. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 10(2), 123-138.
Paulson, S. (2011). The use of ethnography and narrative interviews in a study of “cultures of dance.” Journal of Health Psychology, 16(1), 148-157. https://doi.org/10.1177/1359105310370500
Ramadhanti, R. (2024). Proses internalisasi nilai filosofis dalam seni Reyog Ponorogo pada era modernisasi. Jurnal Budaya dan Pendidikan, 19(2), 99-110. https://repository.upi.edu/129908/
Schechner, R. (2003). Performance theory. Routledge.
Spradley, J. P. (1980). Participant Observation. New York: Holt, Rinehart, and Winston.
Sugianto, A. (2022). Inovasi estetika dalam Festival Nasional Reyog Ponorogo. Jurnal Seni Pertunjukan.





