Revitalisasi Pupujian Sunda sebagai Memori Kultural Digital dan Dampak Sosial-Budaya bagi Generasi Muda
DOI:
https://doi.org/10.21009/Arif.061.09Keywords:
media digital, memori kultural, pupujian Sunda, revitalisasi budaya, sastra lisanAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Pupujian Sunda sebagai memori kultural digital dan menganalisis potensi dampak sosial-budayanya bagi generasi muda. Pendekatan kualitatif-interpretatif digunakan dengan mengintegrasikan analisis sastra lisan, teori memori kultural, pencermatan digital, dan deskripsi kuesioner. Data utama bersumber dari lima teks pupujian dan didukung oleh tiga dokumentasi performansi YouTube serta respons kuesioner dari 18 siswa MAN 4 Ciamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pupujian Sunda berfungsi sebagai medium penyimpanan ingatan kolektif masyarakat Sunda-Muslim terkait dimensi waktu, ilmu, amal, kefanaan, kematian, akhlak, dan identitas religius. Meskipun platform YouTube memperluas aksesibilitas pupujian sebagai arsip suara digital, media ini tidak dapat menggantikan kedalaman pengalaman komunal langsung. Oleh karena itu, strategi revitalisasi yang dinilai paling efektif adalah model hibrida (komunal-digital) yang mengontegrasikan pelantunan langsung, penyediaan teks-terjemahan, kontekstualisasi makna, dan pemanfaatan media digital.
References
Assmann, J. (2011). Cultural memory and early civilization: Writing, remembrance, and political imagination. Cambridge University Press.
Braun, V., & Clarke, V. (2021). Thematic analysis: A practical guide. Sage Publications.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Erll, A. (2011). Memory in culture. Palgrave Macmillan.
Finnegan, R. (1992). Oral poetry: Its nature, significance and social context. Indiana University Press.
García-Gavilanes, R., Mollgaard, A., Tsvetkova, M., & Yasseri, T. (2017). The memory remains: Understanding collective memory in the digital age. Science Advances, 3(4), e1602368. https://doi.org/10.1126/sciadv.1602368
Hall, S. (Ed.). (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. SAGE Publications/The Open University.
Kartini, T., Kusmiyati, Y., & Sumadipura, S. (1986). Puisi pupujian dalam bahasa Sunda. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Lord, A. B. (1960). The singer of tales. Harvard University Press.
Nugraha, R. (2022). Poetic interpretation of the Qur’an and Sundanese literature: Pupujian poem of Wal Fajri by K.H.E. Abdullah. At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur’an dan Tafsir, 7(1).
Ong, W. J. (1982). Orality and literacy: The technologizing of the word. Methuen.
Perdana, K. E. (2022). Analisis semiotika De Saussure pada syair pupujian Sunda Eling Eling Umat. The International Journal of Pegon: Islam Nusantara Civilization, 7(01), 119–133. https://doi.org/10.51925/inc.v7i01.61
Rohmana, J. A. (2019). Terjemahan puitis Al-Qur’an: Dangding dan pupujian Al-Qur’an di Jawa Barat. Layung.
Shobariyah, E. S., Kosasih, D., & Hendrayana, D. (2025). Pupujian di Desa Gombong Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya untuk bahan pembelajaran menyimak di SMP kelas VII: Kajian struktural dan nilai moral. Jurnal Tradisi Lisan Nusantara, 5(2). https://doi.org/10.51817/jtln.v5i2.1583
Sumarlina, E. S. N., Permana, R. S. M., & Darsa, U. A. (2025). Education and character development in the Sundanese manuscript texts Pupujian and Nadoman in the millennial era. Jurnal Ikadbudi, 14(2). https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v14i2.90487
Taufiq, W. (2018). Pupujian (shalawatan) sebelum shalat berjama’ah: Suatu pendekatan semiotik. Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 15(1), 99–118. https://doi.org/10.15575/al-tsaqafa.v15i1.3039
UNESCO. (2003). Convention for the safeguarding of the intangible cultural heritage.
van Dijck, J. (2007). Mediated memories in the digital age. Stanford University Press.
Yasseri, T., Gildersleve, P., & David, L. (2022). Collective memory in the digital age. In S. O’Mara (Ed.), Collective memory. Elsevier.






