STUDI KOMPARATIF PRODUKTIVITAS, MUTU, DAN BIAYA PADA PENERAPAN UPAH HARIAN DAN UPAH PER UNIT PADA DIVISI REPACKING DI PT MAERSK CONTRACT LOGISTICS CIKARANG

Authors

  • Rizky Widi Asmara Institut STIAMI
  • Yusup Rachmat Hidayat Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, Jalan Pangkalan Asem Raya No. 55, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia 10530
  • Degdo Suprayitno Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, Jalan Pangkalan Asem Raya No. 55, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia 10530

DOI:

https://doi.org/10.21009/logistik.v19i01.70227

Keywords:

Upah Harian, Upah Per Unit, Produktivitas, Manajemen Logistik, Repacking

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan produktivitas, mutu dan biaya pada penerapan Upah Harian dan Upah Per Unit pada Divisi Repacking dengan fokus pada aktifitas penempelan label produk impor. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif komparatif. Sumber data terdiri dari data primer hasil wawancara mendalam dengan praktisi industri serta akademisi, observasi secara langsung, dan data sekunder berupa laporan throughput dan logbook perusahaan. Analisis dilakukan dengan membandingkan data kinerja aktual sebelum dan sesudah transisi dari Upah Harian dan Upah Per Unit. Data produktivitas menunjukkan bahwa transisi ke Upah Per Unit mengoptimalkan jam kerja efektif dan mengurangi waktu menganggur (idle time) pekerja saat volume order tinggi, sekaligus mengubah biaya tenaga kerja tetap (fixed cost) menjadi biaya variable (variable cost). Namun, dari dimensi kualitas terdapat kompromi (trade-off), Upah Harian menghasilkan akurasi penempelan stiker yang lebih presisi. Sebaliknya, ritme kerja yang dipercepat pada Upah Per Unit memicu peningkatan ketidakpatuhan terhadap SOP mutu, sehingga meningkatkan rasio kesalahan kerja (rework) dan kerusakan material kemasan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengutamaan Upah Per Unit sangat efektif untuk menangani produk bervolume besar berpola sederhana guna memaksimalkan output. Meski demikian, model ini wajib diintegrasikan dengan pengetatan kontrol kualitas proses (in-process quality control) oleh pengawas lapangan demi menjaga standar kualitas produk.

Published

2026-04-30

Issue

Section

Articles