Penciptaan Karya Tari Shirath Nan Tersirat Dalam Perspektif Islam

  • Romi Nursyam Seni Tari UNJ
Keywords: Tari Islam, tari shirath

Abstract

ABSTRAK

Karya tari Shirath Nan Tersirat merupakan karya tari yang berangkat dari fenomena budaya masyarakat Paninggahan yang masih yakin  pada hal mistik yang bertentangan dengan aqidah Islam, yaitu meminta pada dewa atau jin dengan mengagung-agungkan suatu tempat dalam hal ini adalah sebuah mata air yang ada di Nagari Paninggahan, dianggap ada penghuni atau penguasa berupa makhluk halus. Tujuan penggarapan karya tari ini adalah, Pertama untuk mengekspresikan karya tari yang menggambarkan karakter manusia yang memasuki alam gaib. Kedua untuk menciptakan  karya tari yang mencerminkan karakter manusia yang ingin bertemu dengan Tuhannya (Allah SWT).

Koreografer terinspirasi dari cerita yang ada dalam asal usul tari Adok di Nagari Paninggahan, yaitu ketika seorang raja (Rajo Bagombak Bagalang Kaki, keturunan raja Pagaruyuang)  kerasukan saat mendengar suara nyanyian dewa. Koreografer memberi reinterpretasi, yakni bukan dewa atau jin yang masuk ke alam manusia melainkan manusia yang masuk ke alam jin. Kerja semacam ini koreografer lakukan dengan metode oksplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi.

Metode yang digunakan dalam proses penciptaan karya tari ini adalah metode Alma. M. Hawkins, yaitu melihat, mengalami, merasakan, menghayalkan, dan mengejawantahkan. Metode ini sangat cocok menjadi landasan penciptaan, karena koreografer melihat, dan meraskan sendiri apa yang terjadi di Nagari Paninggahan, sebagian masyarkat yang meminta dan berdoa di mata air, yang tidak lain dihuni oleh jin, dan merupakan perbuatan syirik yang nyata atau mempesekutukan Allah, padahal mereka beragama Islam, dan dosa syirik tidak diampuni Oleh Allah Azza Wajalla.

Published
2018-01-31
How to Cite
Nursyam, R. (2018, January 31). Penciptaan Karya Tari Shirath Nan Tersirat Dalam Perspektif Islam. Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, 2(1), 77-100. https://doi.org/https://doi.org/10.21009/hayula.002.1.06