Value Based Decision Pada Fasilitas Difabel Tunanetra di DKI Jakarta

Authors

  • Irfan Amrullah Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Trisakti, l. Letjen S. Parman No.1 Kampus A, RT.6/RW.16, Grogol, Kec. Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11440, Indonesia
  • Raflis Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Trisakti, l. Letjen S. Parman No.1 Kampus A, RT.6/RW.16, Grogol, Kec. Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11440, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.21009/jmenara.v20i2.53553

Keywords:

Aksesibilitas, Analytic Hierarchy Process, Guiding Block, Tunanetra, Value Based Decision Making

Abstract

Transportasi umum di DKI Jakarta harus memastikan aksesibilitas yang optimal bagi penyandang disabilitas, termasuk tunanetra. Salah satu fasilitas utama yang mendukung mobilitas tunanetra adalah guiding block, namun penggunaannya sering kali tidak maksimal akibat desain yang tidak konsisten, kurangnya pemeliharaan, serta pemasangan yang tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menentukan alternatif terbaik dalam optimalisasi fasilitas difabel tunanetra menggunakan pendekatan Value Based Decision Making (VBDM) dan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Dengan melakukan observasi, wawancara, serta survei kepada pemangku kepentingan terkait, penelitian ini mengidentifikasi empat kriteria utama: Kemudahan Akses, Kemudahan Informasi, Kesetaraan Penggunaan Ruang, dan Keselamatan. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa Keselamatan merupakan faktor paling dominan dalam optimalisasi fasilitas dengan bobot tertinggi sebesar 0,4675, diikuti oleh Kemudahan Akses (0,2286), Kesetaraan Penggunaan Ruang (0,2002), dan Kemudahan Informasi (0,1035). Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan perbaikan desain guiding block, penerapan teknologi pendukung seperti peta taktil dan signage audio, serta peningkatan implementasi kebijakan aksesibilitas guna meningkatkan kemandirian dan keselamatan tunanetra dalam menggunakan transportasi umum.

References

Bonita, T. dan Lukman, A. L. (2022). Evaluasi Aksesibilitas Bagi Tunanetra di Plaza Transit Stasiun Tanah Abang. Jurnal RiSa (Riset Arsitektur), 6(1), 1–19.

ButarButar, F. T. S, Mardiaman, dan Hariyadi, E. S. (2023). Analisis Identifikasi Aspek K3L dalam Proyek Konstruksi Menggunakan Metoda Analitycal Hierarchy Process (AHP). Menara : Jurnal Teknik Sipil, 18(2), 115-121.

Furwasyih, D., Sunesni, Suci, R. M., Yolandha, R., Marlina, R., Zaihan, R. R., Edyyul, I. A., dan Padma, J. (2023). Audiobook Kesehatan Ibu dan Anak sebagai Media Konseling Kesehatan Ibu dan Anak pada Disabilitas Netra. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), 6(4), 1447–1461.

Ho, D., Newell, G., dan Walker, A. (2005). The Importance of Property-specific Attributes in Assessing CBD Office Building Quality. Journal of Property Investment and Finance, 23(5), 424–444.

Indrashanty, A. dan Legowo S., P. (2016). Aksesibilitas dan Mobilitas Transportasi di Provinsi Bengkulu dalam Konteks Negara Maritim dan Penguatan Daerah Tertinggal. Jurnal Penelitian Transportasi Multimoda, 14(2), 95–104.

International Organization for Standardization. (2012). ISO 23599:2019 about Guidelines For the Provision of Tactile Walking Surface Indicators.

Kementerian Perhubungan. (2017). Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2017 tentang Penyediaan Aksesibilitas pada Pelayanan Jasa Transportasi Publik Bagi Pengguna Jasa Berkebutuhan Khusus.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2017). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14/PRT/M/2017 Tahun 2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung.

Kusrini. (2017). Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan. Yogyakarta: Andi Offset.

Maisel, J. L., Choi, J., dan Ranahan, M. E. (2021). Factors Influencing Fixed-route Transit Decision-making: Exploring Differences by Disability and Community Type. Journal of Public Transportation, 23(1), 1–14.

Murdiyanto, F. (2017). Analisis Pembobotan Kriteria Pelayanan Terminal Tipe B Jawa Tengah dengan Menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) (Studi Kasus Terminal Kabupaten Demak dan Terminal Kabupaten Banjarnegara). Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan.

Noviyanti, E., Wibowo, K., dan Faiqun, M. (2022). Analisis Value Engineering pada Proyek Perumahan Pesona Griya Asri di Kabupaten Kudus. Menara: Jurnal Teknik Sipil, 17(1), 1–8.

Pangesti, R. D. dan Abdillah, R. A. (2023). Penerapan Guiding Block bagi Tuna Netra Jalur Pedestrian. Bangun Rekaprima, 9(1), 99-105.

Pemerintah Indonesia. (2016). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyandang Disabilitas.

Prayoga, D., Aliyah, I., dan Widodo, C. E. (2023). Evaluasi Pemenuhan Kebutuhan Aksesibilitas Jalur Pedestrian bagi Penyandang Disabilitas di Kawasan Pumpunan Moda CSW ASEAN. Jurnal Desa-Kota (Perencanaan Wilayah, Kota, dan Pemukiman), 5(2), 12–27.

Propiona, J. K. (2021). Implementasi Aksesibilitas Fasilitas Publik Bagi Penyandang Disabilitas. Jurnal Analisa Sosiologi, 10, 1–18

Saaty, T. L. (2008). Decision Making with the Analytic Hierarchy Process. International Journal Services Sciences, 1(1), 83-98.

Sativa dan Bactiar, Y. B. (2020). Kajian terhadap Aksesibilitas Fisik bagi Tunanetra dan Tunadaksa di Gedung LPPMP UNY. INERSIA, 16(1), 85–91.

Therawati, C. A. dan Rusdarti. (2019). Analisis Pelayanan Publik Bidang Transportasi untuk Difabel di Kota Semarang. EFFICIENT Indonesian Journal of Development Economics, 2(2), 387–394.

Tokuda, K., Mizuno, T., Nishidate, A., Arai, K., dan Aoyagi, M. (2008). Guidebook for the Proper Installation of Tactile Ground Surface Indicators (Braille Blocks): Common Installation Errors. International Association of Traffic and Safety Sciences April.

Downloads

Published

2025-07-03