Disinformasi Digital dalam Penyebaran Paham Bumi Datar di Era Post-Truth

Authors

  • Ristu Margani Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid, Sahid Sudirman Residence, Lantai 5 Office, Jalan Jendral Sudirman No. 86, Tanah Abang, Jakarta, Indonesia
  • Andi Mirza Ronda Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid, Sahid Sudirman Residence, Lantai 5 Office, Jalan Jendral Sudirman No. 86, Tanah Abang, Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.21009/COMM.036.09

Keywords:

Post-Truth, Flat Earth, Disinformation

Abstract

Paham bumi datar merupakan salah satu bentuk fenomena post-truth yang berkembang melalui pemanfaatan media digital, meskipun telah tersedia bukti ilmiah yang kuat bahwa bumi berbentuk bulat. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi penyebaran narasi bumi datar di media sosial serta mengidentifikasi bentuk misinformasi, disinformasi, dan penggunaan narasi keagamaan dalam memengaruhi khalayak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui observasi terhadap konten YouTube dan Facebook, wawancara mendalam dengan pengamat media digital dan akademisi komunikasi, serta analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebar paham bumi datar memanfaatkan narasi emosional, interpretasi agama, dan klaim pseudoilmiah untuk membangun kepercayaan audiens, sehingga karakteristik post-truth lebih dominan dibandingkan penyampaian fakta ilmiah. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis masyarakat dalam menghadapi penyebaran misinformasi di ruang digital.

References

Andika Eka Cahya. (2020). Analisa semiotika pesan bumi datar dalam video Flat Earth 101 di YouTube (Undergraduate thesis). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ardianto, D., & Firman, H. (2017). Apakah teori bumi datar dapat dipandang sebagai realitas? Journal of Science Education and Practice, 1(1), 1–12.

Arendt, H. (1973). The origins of totalitarianism. Harvest Books.

Aziz, M. I. (2001). Galaksi simulacra. LKiS.

Barker, C. (2000). Cultural studies: Theory and practice. Sage Publications.

Cabrera, N. L., & Matias, C. E. (2021). Digital misinformation, critical media literacy, and democratic participation. Journal of Media Literacy Education, 13(2), 1–14.

Douglas, K. M., Uscinski, J. E., Sutton, R. M., Cichocka, A., Nefes, T., Ang, C. S., & Deravi, F. (2023). Understanding conspiracy theories. Political Psychology, 44(S1), 3–35. https://doi.org/10.1111/pops.12818

Garwood, C. (2007). Flat earth: The history of an infamous idea. Thomas Dunne Books.

Guess, A. M., Nagler, J., & Tucker, J. A. (2020). Less than you think: Prevalence and predictors of fake news dissemination on Facebook. Science Advances, 6(14), eaay3539.

Halimatusa’diah. (2021). YouTube dan pengaruhnya dalam proses konversi menjadi Flat Earther: Studi pada komunitas bumi datar Indonesia. Jurnal Komunikasi, 12(2), 167–184.

Haryatmoko, S. J. (2018, March 22). Pemeriksaan fakta sebagai upaya melawan post-truth. Materi Diskusi KAFEE Jurnalisme Perempuan.

Jufri, M., & Wibowo, K. A. (2022). Literasi digital sebagai strategi menangkal hoaks di media sosial. Jurnal Communicology, 10(2), 187–201.

Lantian, A., Muller, D., Nurra, C., & Douglas, K. M. (2017). "I know things they don't know!": The role of need for uniqueness in belief in conspiracy theories. Social Psychology.

Llorente, J. A. (2017). The post-truth era: Reality vs perception. UNO Magazine, 27.

Muryanto, B. (2018, September). Menangkal sampah informasi di media massa. Workshop Kick Off Program Infest Yogyakarta.

Oliver, J. E., & Wood, T. J. (2015). Conspiracy theories and the paranoid style(s) of mass opinion. American Journal of Political Science, 58(4), 952–966.

Rahmansyah, B. Y., & Wibowo, N. F. S. (2024). Representasi budaya korupsi dalam film Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso. Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi. https://doi.org/10.21009/COMM.032.08

Rahmawati, N., & Hidayat, D. (2023). Media sosial dan pembentukan opini publik pada era post-truth. Jurnal Communicology, 11(1), 45–60.

Ronda, A. M. (2018). Tafsir kontemporer ilmu komunikasi: Tinjauan teoritis epistemologi aksiologi. Indigo Media.

Salim, A. (2006). Teori dan paradigma penelitian sosial. Tiara Wacana.

Sameshima, P. (2017). Post-truth simulacra: Inviting mutable meaning-making. Journal of the Canadian Association for Curriculum Studies, 15(2), 21–36.

Santoso, B. (2019). Simulakra teknologi digital di era post-truth dan pendangkalan nilai demokrasi. Dalam Prosiding Seminar Nasional Politik dan Hukum Indonesia.

Schackmuth, A. (2018). Extremism, fake news and hate: Effects of social media in the post-truth era (Master's thesis). University of Houston.

Shihab, M. Q. (1996). Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat. Mizan.

Statistik Pengguna Internet Indonesia. (2019). Statistik pengguna digital dan internet Indonesia Januari 2019. https://www.boc.web.id/statistik-pengguna-digital-dan-internet-indonesia-2019/

Sugiyono. (2011). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Thomas, D. (2017). Jawaban atas pertanyaan penggemar dongeng FE – Bumi Datar. https://tdjamaluddin.wordpress.com

Vaccari, C., & Chadwick, A. (2020). Deepfakes and disinformation: Exploring the impact of synthetic political video on deception and uncertainty. Social Media + Society, 6(1), 1–13.

Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2021). The spread of true and false news online: Recent developments and future directions. Annual Review of Political Science, 24, 179–199.

Wardana, A. (2018). Fenomena post-truth dan hoax di Indonesia: Sebuah kajian sosiologi. Kajian Malam Sabtu AMM DIY.

Wolchover, N. (2012). Are Flat-Earthers being serious? LiveScience. https://www.livescience.com

Zhang, X., Ghorbani, A. A., & Li, Y. (2022). Characterizing misinformation and disinformation on social media: A systematic review. Information Processing & Management, 59(3), 102804.

Downloads

Published

2026-07-10

How to Cite

Ristu Margani, & Andi Mirza Ronda. (2026). Disinformasi Digital dalam Penyebaran Paham Bumi Datar di Era Post-Truth . Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 14(1), 131–144. https://doi.org/10.21009/COMM.036.09