Framing Media Nasional dan Internasional tentang Kesepakatan Diplomatik Indonesia China di Laut China Selatan

Authors

  • Joko Prawito Program Magister Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Indonesia, 12630
  • Sudarto Program Magister Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Indonesia, 12630
  • Aprilianti Pratiwi Program Magister Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Indonesia, 12630
  • Bonny Perkasa Halim Program Magister Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Indonesia, 12630

DOI:

https://doi.org/10.21009/COMM.036.02

Keywords:

peace journalism, Media Framing, Indonesia-China Relations

Abstract

ABSTRACT

Introduction: The diplomatic agreement between Indonesia and China following President Prabowo Subianto’s visit to Beijing in November 2024 sparked public debate over Indonesia’s maritime sovereignty in the North Natuna Sea. The objective of this study is to analyze the framing employed by national and international media regarding the Indonesia - China diplomatic agreement on the South China Sea, particularly the issue of the North Natuna Sea. Methods: This study employed a qualitative content analysis approach by integrating Entman’s Framing Theory, Galtung’s Peace Journalism, and Coombs’ Crisis Communication Model. Data were collected from four national media outlets Kompas, The Jakarta Post, Detik.com, and Tempo and four international media outlets BBC News, Reuters, South China Morning Post, and The Straits Times published between November 2024 and January 2025. Results: The findings reveal significant disparities in media framing. National media predominantly adopted narratives emphasizing diplomacy and economic cooperation, which are aligned with the principles of peace journalism, whereas international media employed conflict-oriented and geopolitical tension frames consistent with the war journalism approach. The Indonesian government implemented crisis communication strategies, particularly the justification strategy, to manage public perception and reaffirm national sovereignty. Conclusion: This study contributes to the fields of media studies, political communication, and international relations by demonstrating how media framing shapes public opinion and influences foreign policy narratives in the context of maritime geopolitical disputes.

ABSTRAK

 

Pendahuluan: Kesepakatan diplomatik Indonesia-Tiongkok pasca kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Beijing pada November 2024 memicu perdebatan publik tentang kedaulatan maritim Indonesia di Laut Natuna Utara. Tujuan penelitian adalah menganalisis pembingkaian yang dilakukan media nasional dan internasional tentang kesepakatan diplomatik Indonesia-Tiongkok mengenai Laut Cina Selatan, khususnya isu wilayah Laut Natuna Utara. Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis konten kualitatif digunakan dengan mengombinasikan Teori Framing Entman, Jurnalisme Perdamaian Galtung, dan Model Komunikasi Krisis Coombs. Data dikumpulkan dari empat media nasional, yaitu Kompas, The Jakarta Post, Detik.com, dan Tempo, serta empat media internasional, yaitu BBC News, Reuters, South China Morning Post, dan The Straits Times, pada periode November 2024 hingga Januari 2025. Hasil penelitian mendapatkan temuan yang mengungkapkan disparitas framing yang signifikan, media nasional sebagian besar mengadopsi konsep diplomasi dan kerjasama ekonomi yang sejalan dengan prinsip-prinsip jurnalisme perdamaian, sedangkan media internasional menerapkan kerangka konflik dan ketegangan geopolitik yang sesuai dengan pendekatan jurnalisme perang. Pemerintah Indonesia menerapkan strategi komunikasi krisis, khususnya strategi pembenaran, untuk mengelola persepsi publik dan menegaskan kembali kedaulatan nasional. Kesimpulan penelitian ini berkontribusi pada studi media, komunikasi politik, dan keilmuan hubungan internasional dengan menunjukkan bagaimana framing media membentuk opini publik dan memengaruhi narasi kebijakan luar negeri dalam konteks perselisihan geopolitik maritim.

Author Biography

Sudarto, Program Magister Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Indonesia, 12630

Prodi Magister Media dan Komunikasi

References

BBC News. (2024). Indonesia’s maritime deal with China raises sovereignty concerns. https://www.bbc.com/news/asia

Beckman, R. (2013). The UN Convention on the Law of the Sea and the Maritime Disputes in the South China Sea. American Journal of International Law, 107(1), 142–163. https://doi.org/10.5305/amerjintelaw.107.1.0142

Coombs, W. T. (2007). Ongoing crisis communication: Planning, managing, and responding (2nd ed.). Sage Publication.

Detik.com. (2024). Penegasan Prabowo soal sikap RI di Laut China Selatan. https://news.detik.com/berita/d-7639037/penegasan-prabowo-soal-sikap-ri-di-laut-china-selatan

Dwijastuti, P., & Manalu, S. R. (2022). Transnational comparative framing analysis of South China Sea conflict in Southeast Asian online media coverage. Interaksi Online, 10(3), 252–265.

Eni Nurhayati, Sukarno, & Ikwan Setiawan. (2021). Analisis Framing Pemberitaan Media Online Mengenai Kasus Glorifikasi Saipul Jamil . Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 9(2), 289–306. https://doi.org/10.21009/COMMUNICOLOGY.022.010

Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x

Fadli, M. R. (2021). Konstruksi berita “Kepulangan WNI dari Malaysia akibat pandemi Covid-19” pada media online Tribun Batam.Id dan Haluan Kepri.Id. Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 9(1), 68–84. https://doi.org/10.21009/COMMUNICOLOGY.021.05

Galtung, J. (2002). Peace journalism: A challenge. In W. Kempf & H. Luostarinen (Eds.), Journalism and the new world order (hal. 259–272). Nordicom.

Giusti, S. (2022). The Fall and Rise of National Interest: A Contemporary Approach. Springer.

Goh, E. (2019). Power, order and change in world politics. Cambridge University Press.

Koremenos, B., et al. (2022). The rational design of international institutions. International Organization, 55(4). 761-799.

Kompas.com. (2024a). Kemenlu tegaskan kerja sama maritim Indonesia-China bukan berarti mengakui “Nine Dash Lines.” https://nasional.kompas.com/read/2024/11/11/11071461/kemenlu-tegaskan-kerja-sama-maritim-indonesia-china-bukan-berarti-mengakui

Kompas.com. (2024b). Langkah Prabowo di Laut Natuna. https://www.kompas.com/global/read/2024/11/15/072023570/langkah-prabowo-di-laut-natuna

Kompas.com. (2024c). Sorotan media asing saat Presiden Prabowo temui Xi Jinping di China. https://www.kompas.com/tren/read/2024/11/10/133000065/sorotan-media-asing-saat-presiden-prabowo-temui-xi-jinping-di-china

Krippendorff, K. (2004). Content analysis: An introduction to its methodology (2nd ed.). Sage Publication.

Lee, P. S. N., & Chan, J. M. (2009). Framing and priming in international news coverage of China’s territorial disputes. Asian Journal of Communication, 19(2), 135–152. https://doi.org/10.1080/01292980902827132

Lynch, J., (2025). Peace journalism in the new millennium: New challenges with the changing face of conflict. Dalam S. Roy (Ed.), The handbook of conflict and peace communication (hlm. 181-195). John Wiley & Sons, Inc.

Martha, J., Harsawaskita, A., Syawfi, I., & Margono, V. T. (2022). Analisis framing: Pemberitaan media massa mengenai kebijakan luar negeri Indonesia dalam menanggapi rivalitas Amerika Serikat dan China (2019-2022). Jurnal Dinamika Global, 7(2). https://doi.org/10.36859/jdg.v7i02.1070

Maulaya, M. (2025). The political framing of the 2024 China-Indonesia joint statement. Jurnal Global, 27(1).

McCombs, M., & Shaw, D. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187. https://doi.org/10.1086/267990

Ofori, M., Ha, L., & Sharma, S. (2025). Political allies in foreign war news framing: A four-country comparison of the 2022 Russia–Ukraine war news coverage. Journalism Practice. https://doi.org/10.1177/17480485251404806

Reuters. (2024). Indonesia says it has no overlapping South China Sea claims with China, despite deal. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-says-it-has-no-overlapping-south-china-sea-claims-china-despite-deal

Riski, P. (2022). Citra media dan Kementerian Kesehatan dalam vaksinasi Covid-19 di Makassar. Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(2), 151–166. https://doi.org/10.21009/COMMUNICOLOGY.030.010

South China Morning Post. (2024). Indonesia’s Prabowo on managing South China Sea row: “Partnerships better than conflicts.” https://www.scmp.com/news/asia/southeast-asia/article/3286486/indonesias-prabowo-managing-south-china-sea-row-partnerships-better-conflicts

South China Morning Post. (2025). In the South China Sea, Indonesia tests the limits of non-alignment. https://www.scmp.com/week-asia/politics/article/3296199/south-china-sea-indonesia-tests-limits-non-alignment

Sugiarti, P. I. (2020). Pengaruh konstruksi berita media online Xinhua terhadap eskalasi konflik Laut Cina Selatan tahun 2016–2017. Jurnal Kajian Media dan Komunikasi, 5(2), 78–93.

Susilo, D., & Dizon, C. C. G. (2023). Framing analysis of China’s relationship about the South China Sea dispute on Channel News Asia. Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(10), 964–973. https://doi.org/10.59141/cerdika.v3i10.653

Tempo.co. (2024a). IOJI sebut pernyataan bersama Prabowo-Xi Jinping bisa menguntungkan Cina di Laut Natuna Utara. https://www.tempo.co/internasional/ioji-sebut-pernyataan-bersama-prabowo-xi-jinping-bisa-menguntungkan-cina-di-laut-natuna-utara-1171983

Tempo.co. (2024b). Kunjungan Prabowo ke Cina, hasilkan beberapa kesepakatan. https://www.tempo.co/politik/kunjungan-prabowo-ke-cina-hasilkan-beberapa-kesepakatan--1168150

The Diplomat. (2024). Did Indonesia just capitulate to China on the South China Sea? https://thediplomat.com/2024/11/did-indonesia-just-capitulate-to-china-on-the-south-china-sea/

The Jakarta Post. (2024). Indonesia says it has no overlapping South China Sea claims with China. https://www.thejakartapost.com/world/2024/11/11/indonesia-says-it-has-no-overlapping-south-china-sea-claims-with-china.html

The Straits Times. (2024). Keeping it balanced: Prabowo’s US and China tour shows Indonesia’s foreign policy ambition. https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/keeping-it-balanced-prabowos-us-and-china-tour-shows-indonesias-foreign-policy-ambition

Wang, Z., Li, Q., & Chen, H. (2021). South China Sea disputes and Indonesia’s response to China’s maritime claims. Journal of Southeast Asian Studies, 52(3), 420–343. https://doi.org/10.1017/S0022463421000345

Zhang, H., & Bateman, S. (2017). Fishing militia, the securitization of fishery, and the South China Sea dispute. Journal of Contemporary Asia, 47(2), 326–343. https://doi.org/10.1080/00472336.2017.1284143

Downloads

Published

2026-07-10

How to Cite

Prawito, J., Sudarto, Aprilianti Pratiwi, & Bonny Perkasa Halim. (2026). Framing Media Nasional dan Internasional tentang Kesepakatan Diplomatik Indonesia China di Laut China Selatan. Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 14(1), 18–37. https://doi.org/10.21009/COMM.036.02