Edukasi Budaya Jepang melalui Pengenalan Pakaian dan Tarian Tradisional bagi Siswa SMA/Sederajat
DOI:
https://doi.org/10.21009/sarwahita.232.04Keywords:
Budaya Jepang, Tarian Tradisional, Pakaian Tradisional, Sakura Odori, YukataAbstract
The program introducing traditional Japanese clothing and dance to senior high school/equivalent students aimed to enhance participants’ knowledge and understanding of traditional Japanese culture and to identify their interest in this cultural heritage. The activity employed a Community-Based Participatory Research (CBPR) approach, emphasizing collaboration between higher education institutions and the community, combined with a service-learning approach. The activity was attended by 136 high school students in Bandung and included the introduction and practice of Sakura Odori dance and Yukata, a traditional Japanese garment. Evaluation was conducted using a questionnaire consisting of multiple-choice and open-ended questions addressing participants’ knowledge, experiences, perceptions, and interest in traditional Japanese culture. The results showed that participants’ initial knowledge of traditional Japanese clothing was higher than their knowledge of traditional Japanese dance. A total of 85.1% of participants reported that they were familiar with traditional Japanese clothing, whereas only 30.4% reported being familiar with traditional Japanese dance. The open-ended responses indicated that participants were able to identify various types of traditional Japanese clothing and dances, as well as their characteristics, functions, and cultural meanings. Furthermore, 100% of participants expressed satisfaction with the activity, while 79.5% expressed an interest in learning more about traditional Japanese culture.
Abstrak
Program pengenalan pakaian dan tarian tradisional Jepang bagi siswa SMA/sederajat bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan peserta mengenai budaya tradisional Jepang serta mengidentifikasi minat mereka terhadap budaya tersebut. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) yang menekankan kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas serta dipadukan dengan pendekatan service learning. Kegiatan diikuti oleh 136 siswa SMA di Bandung dengan materi berupa pengenalan dan praktik tarian Sakura Odori serta pakaian tradisional Yukata. Evaluasi dilakukan melalui kuesioner yang memuat pertanyaan pilihan ganda dan pertanyaan terbuka mengenai pengetahuan, pengalaman, persepsi, dan minat peserta terhadap budaya tradisional Jepang. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan awal peserta mengenai pakaian tradisional Jepang lebih tinggi dibandingkan dengan tarian tradisional Jepang. Sebanyak 85,1% peserta menyatakan telah mengetahui pakaian tradisional Jepang, sedangkan hanya 30,4% yang menyatakan telah mengetahui tarian tradisional Jepang. Jawaban terbuka menunjukkan bahwa peserta dapat mengidentifikasi beragam jenis pakaian dan tarian tradisional Jepang serta karakteristik, fungsi, dan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Selain itu, sebanyak 100% peserta menyatakan puas terhadap kegiatan dan 79,5% menyatakan tertarik untuk mempelajari budaya tradisional Jepang secara lebih mendalam.
References
Abe, M. (2014). The Role and Potentiality of Folk Performance Arts in Local Communities: The Case of Nakano Nanazumai Dance in Iwaizumi Town, Iwate Prefecture. Journal of Policy Studies, 15(2), 161–180. iwate-pu.repo.nii.ac.jp
Afandi, A. (2022). Metodologi Pengabdian Masyarakat (1st ed.). Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/71356/1/Buku.pdf
Apriliani, F., Amalia, A., Nurohmah, H., Gayatri Ranadireksa, D., Jaohari, A. L., & Ulun Sundasewu, R. (2024). Pengenalan Budaya Jepang Dan Prospek Lulusan Bahasa Jepang. Jurnal Abdimas Bina Bangsa, 6(1), 240-245. https://doi.org/10.46306/jabb.v6i1.1545
Ayyub, I., NOVIANA, F., & FADLI, Z. A. (2023). Pengenalan Pakaian Tradisional Jepang Yukata. Jurnal Bakti Humaniora, 3(2), 38–43. https://doi.org/10.35473/jbh.v3i2.2701
Azizah et all. (2025). Restorasi Meiji Modernisasi Jepang. Edukreatif: Jurnal Kreativitas Dalam Pendidikan, 6(2), 124–135. https://ijurnal.com/1/index.php/jkp
Biefausta, F. (2024). Perkembangan Fungsi Yukata Pada Fashion Era Edo dan Meiji (1603-1868) (1868-1912) [Universitas Darma Persada]. http://repository.unsada.ac.id/id/eprint/8392
Efendi, M. (2020). Bentuk Imitasi Budaya Jepang Dalam Festival Isshoni Tanoshimimashou Di Universitas Brawijaya Malang (Vol. 2507, Issue February) [Universitas brawijaya]. https://repository.ub.ac.id/id/eprint/199634/1/MUHAMAD EFENDI.pdf
Fadillah, A. N. R., Astartia, D. D., Rochim, J. F., Fatin, J. S. B., Ni’mah, A. S., & Malau, H. S. (2024). Workshop Yukata dan Kimono pada Pembelajar Bahasa Jepang Politeknik Takumi Cikarang. Jurnal Pengabdian Masyarakat Inovasi Indonesia, 2(1), 73–80. https://doi.org/10.54082/jpmii.310
Hastuti, N., Nur Ridha, D. A., & Agusta, N. D. N. (2024). Pengenalan Pakaian Tradisional Jepang Yukata Di Smu Negeri 4 Semarang. Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 8(1), 13-16. https://doi.org/10.14710/hm.8.1.14-17
Jamilah, & Sahnir, N. (2024). Signifikansi Gerakan Tari Tradisional dalam Ritme Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan. Indonesian Journal of Social and Educational Studies, 5(2), 71–83. https://doi.org/10.26858/ijses.v5i2.68214
Kawase, S., & Eguchi, K. (2025). Impact of group dancing during Japanese festivals on people’s sense of community. Frontiers in Psychology, 16(March). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1469066
Koguchi, T. (2020). Budaya Mengenakan Yukata. https://www.fun-japan.jp/id/articles/10972
Putri, A. A. D., Lusiana, Y., & Puspitasari, D. (2020). Tradisional Jepang Kimono Kurotomesode. 9(November), 1–12. https://doi.org/10.34010/JS.V9I2.3531
Ridha, D. A. N., & Dwi Agusta, N. N. (2022). Pengenalan budaya tradisional Jepang kaligrafi (shodou) kepada siswa SMA Negeri 4 Semarang. Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(2), 236–243. https://doi.org/10.14710/hm.6.2.236-243
Rohmadiati, I., Triristina, N., Kasanusi, Widianto Akbar, B., & Iskandar, W. N. R. (2025). Strategi Japan Foundation dalam diplomasi budaya Jepang di Indonesia melalui program Nihongo Partners (2022–2024). Journal of Public Power, 9(2), 133–150. https://doi.org/10.32492/JPP.V9i2.9205
Santika, N., Putri, D. R., Sadida, M., Ilhamdi, R., & Nurdiansyah, A. (2025). Diplomasi budaya jepang terhadap indonesia melalui festival budaya jak-japan matsuri (jjm) tahun 2019-2024. 7(3).
Sunarni, N., & Hudayat, A. (2021). Pengaruh Musim Pada Perilaku Budaya Fashion Dan Kuliner Dalam Kehidupan Masyarakat Jepang. Jurnal Sastra Studi Ilmiah Sastra Universitas Nasional Pasim, 11(2), 73.
Sunarni, N., Hamidah, I., & Ashari. (2023). Cultural Values in Koromogae Reflecting Japanese People’s Identity (Issue Colalite). Atlantis Press SARL. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-140-1_20
Susilo, D., Putranto, T. D., & Garcia, E. M. A. (2021). Digital Media Studies Perspectives on Japan Performing Arts on Instagram @performance.jpa. Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa Dan Sastra, 8(2), 91–107. https://doi.org/10.25139/ayumi.v8i2.3867
Wardani, P. K., Cahyadi, O., & Yetti, E. (2023). Improving Appreciation of Traditional Dance Through Case-Based Learning Models. Jurnal Pendidikan Tari, 3(2), 37-49.
Wiyatasari, R. (2018). Perayaan Obon (Obon-Matsuri) di Jepang. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 2(1), 62. https://doi.org/10.14710/endogami.2.1.62-70
Yokoyama, D., Li, L., Takatori, S., Hasegawa, K., Shikanai, N., & Tanaka, S. (2025). A VR learning support system for comparative visualization of Japanese traditional dance movements. Journal of Advanced Simulation in Science and Engineering, 12(1), 80–99. https://doi.org/10.15748/jasse.12.80
Zodiak, Y. (2013). Mono No Aware Pada Peribahasa Jepang Yang Menggunakan Kata Sakura. Japanology, 1(2), 184–193.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Asteria Permata Martawijaya, Maria Gustini

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Copyright Notice
Sarwahita allow the author(s) to hold the copyright without restrictions and allow the author(s) to retain publishing rights without restrictions. Sarwahita CC-BY or an equivalent license as the optimal license for the publication, distribution, use, and reuse of scholarly work. In developing strategy and setting priorities, Sarwahita recognize that free access is better than priced access, libre access is better than free access, and libre under CC-BY or the equivalent is better than libre under more restrictive open licenses. We should achieve what we can when we can. We should not delay achieving free in order to achieve libre, and we should not stop with free when we can achieve libre.
Sarwahita is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
You are free to:
Share - copy and redistribute the material in any medium or format
Adapt - remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially.
The licensor cannot revoke these freedoms as long as you follow the license terms.